Kota Kalong di Kota Watan Soppeng - SILEWO NEWS

Selasa, 02 Juli 2013

Kota Kalong di Kota Watan Soppeng


SILEWO NEWS -- Watansoppeng adalah salah satu kota kabupaten tercantik di Provinsi Sulawesi Selatan. Suasana di dalam kota tampak teduh, karena hampir semua ruas  jalan dipenuhi oleh pohon asam dan jenis pohon lainnya yang berjejer di sisi  kiri dan kanan jalan. Kota  kecil dan berhawa sejuk ini berada di pegunungan dengan ketinggian 200 meter di  atas permukaan laut.

Menurut catatan sejarah, sebagaimana tertulis  dalam Lontara Bugis (tulisan kuno orang Bugis), Kota Soppeng  merupakan bekas kota kerajaan masa lampau yang memiliki wilayah kekuasaan dan pengaruh yang cukup  luas. Di kota ini terdapat komplek Istana Raja (Datu) Soppeng yang dibangun oleh I Latemmamala  yang bergelar Petta Bakkae pada tahun 1261 M. Di dalam komplek tersebut terdapat sejumlah bangunan, di antaranya: Bola RidiE (Rumah Kuning), yaitu  tempat penyimpanan benda-benda atribut Kerajaan Soppeng; SalassaE, yaitu bekas Istana Datu Soppeng; dan Menhir Latammapole, yaitu tempat melaksanakan hukuman bagi para pelanggar adat. Di kota  ini juga terdapat komplek makam Jera LompoE dan KalokoE Watu. Di dalam komplek makam Jera LompoE terdapat makam Raja-raja (Datu) Soppeng, Luwu dan Sidrap pada abad XVII. Sementara di dalam komplek KalokoE Watu terdapat  makam We Tenri Sui, ibu kandung Arung Palakka.

Kota Watansoppeng memiliki keunikan yang sangat mengagumkan, sehingga ia dijuluki sebagai “Kota Kalong” atau “Kota  Pekalongan” (bukan nama kota  yang ada di Pulau Jawa). Pengunjung jangan terkejut ketika memasuki jantung Kota Watansoppeng, karena akan mencium bau khas yang sangat menyengat hidung. Bau  khas itu tidak lain adalah bau kalong atau kelelawar. Bau kalong tersebut akan semakin menyengat jika pengunjung berada tepat di bawah pohon tempat para kalong  tersebut bergelantungan.

Menjelang malam, kalong-kalong  tersebut terbang meninggalkan pepohonan untuk mencari makan. Saat kalong-kalong  yang jumlahnya ribuan tersebut terbang, langit seakan tertutup oleh bayangan  hitam. Kawanan kalong tersebut akan kembali ke pepohonan pada subuh hari dengan suara gemuruh seakan membangunkan warga Kota Soppeng untuk segera melaksanakan  shalat subuh dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Tidak seorang pun penduduk yang tahu  persis kapan tepatnya kalong-kalong tersebut mulai bersarang di atas pepohonan yang  berjejer di ruas-ruas jalan Kota Watansoppeng. Masyarakat hanya meyakini bahwa  keberadaan kalong yang mirip tikus tersebut sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.  Lebih dari itu, mereka juga meyakini bahwa kalong-kalong tersebut merupakan  “penjaga” kota Watansoppeng. Bahkan, mereka sangat percaya bahwa kalong-kalong tersebut menjadi  pertanda dan pemberi informasi tentang sesuatu yang baik dan buruk yang akan  terjadi di kota  ini. Jika kalong-kalong tersebut pergi meninggalkan Kota Watansoppeng dalam  waktu yang lama, maka itu sebagai pertanda bahwa akan terjadi bencana yang  menimpa masyarakat dan kota  tersebut.

Terbakarnya Pasar Sentral Soppeng  pada tahun 1990 diyakini oleh masyarakat setempat merupakan akibat dari  ditebangnya pohon besar yang menjadi tempat tinggal raja atau pemimpin kalong  tersebut. Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat tidak pernah lagi mengusik  keberadaan satwa tersebut. Untuk mengembalikan kawanan kalong tersebut  membutuhkan waktu yang cukup lama. Kawanan kalong tersebut baru akan kembali jika  masyarakat setempat mengadakan upacara khusus yang dirangkaikan dengan penyembelihan  beberapa ekor kerbau.

Ada juga mitos yang berkembang di  kalangan masyarakat Soppeng bahwa jika seorang pengunjung terkena kotoran  kalong-kalong tersebut, maka ia akan mendapatkan gadis atau pemuda Kota Watansoppeng.  Anda penasaran dengan mitos tersebut? Kunjungilah kota ini untuk membuktikannya!

Kota Watansoppeng merupakan ibu kota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota Watansoppeng terletak 150  kilometer di sebelah utara Kota Makassar. Dari Kota Makassar, perjalanan  ditempuh selama 4 – 5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan  umum berupa mobil panther atau kijang, dengan tarif sekitar Rp. 50.000,-. Per-orang.

Di Kota Watansoppeng tersedia  berbagai macam fasilitas, seperti warung makan, restoran, penginapan, wiswa,  motel, hotel, dan villa. Selain itu, juga terdapat Masjid Raya Soppeng yang  berdiri dengan megah dan indah tepat di jantung kota, yang tak jauh dari pepohonan tempat kawanan kalong tersebut bergelantungan.

Sumber : Wisata Melayu

0 komentar :

Poskan Komentar